NHW #4: Throwing Back and Moving Far Ahead

Berbeda dari NHW-NHW sebelumnya, saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan NHW yang keempat ini.

Apa isi NHW #4? Cukup panjang, jadi saya tidak akan menuliskannya lagi di sini. Intinya, saya harus me-review kembali apakah NHW #1, #2, dan #3 sudah sesuai dengan misi hidup saya atau tidak.

Misi hidup? Yes. Itulah kenapa postingan kali ini saya beri judul Throwing Back and Moving Far Ahead. Throwing Back, karena saya harus menoleh lagi ke belakang untuk memeriksa kembali jawaban NHW-NHW saya yang terdahulu. Moving Far Ahead, karena kali ini saya harus menetapkan sebuah misi hidup yang dituangkan menjadi sebuah target jangka panjang. Tidak hanya sebagai istri dan ibu, tapi juga sebagai individu yang bisa memberikan manfaat untuk orang di sekitar saya.

Saya dulu berpikir: dengan menjadi istri dan ibu penuh-waktu yang baik, saya sudah menjalankan peran saya seutuhnya sebagai seorang wanita. Tapi ternyata tidak.

Saat sesi tanya-jawab di kelas, saya sempat bertanya, apakah boleh bila misi hidup saya berkisar di lingkup keluarga saja? Jawaban Bu Fasil berikut ini sangat menohok saya.

Salah satu misi hidup, paling tidak… ada untuk membawa kebermanfaatan diri untuk orang-orang sekitar.

I was enlightened. Wah, ternyata selama ini saya egois sekali. Saya hanya berkonsentrasi penuh pada keluarga kecil saya sendiri tanpa pernah serius berpikir bagaimana caranya untuk membuat diri saya menjadi individu yang mampu memberikan manfaat untuk sekitar.

Berbicara tentang memberikan manfaat untuk orang lain, mungkin ada yang berpikir: membuat postingan yang berisi kebaikan di media sosial itu juga termasuk salah satu contohnya kan? Tidak perlu susah-susah membuat misi hidup, apalagi target jangka panjang segala.

Uhm, iya. Tapi setelah saya renungkan lagi, I know that THIS is so much more than that. Dengan menetapkan misi hidup, sebenarnya kita tidak hanya melakukannya untuk orang lain, tapi juga untuk diri kita sendiri.

Apa maksudnya? Begini. Apa yang akan terjadi bila kita sudah punya misi hidup yang jelas dan terukur? Kalau saya, saya pasti akan terpacu untuk mencapai misi tersebut. Kalau sudah begitu, saya pasti akan mencari cara bagaimana agar target/misi itu bisa terealisasi dengan baik. Tanpa disadari, saya sebenarnya sedang berusaha meng-upgrade diri sendiri: to bring out the best in me, to challenge my limits.

Dus, akhirnya saya mencoba untuk merancang sebuah misi hidup. Misi hidup saya ini akan membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa tercapai (atau mungkin juga sebentar, wallahualam). Selain itu, saya tentu saja tidak mau jika misi hidup saya ini nantinya malah berpotensi untuk ‘merusak’ peran utama saya sebagai istri dan ibu. Jadi saya memutar otak, hal apa yang bisa saya lakukan yang sekiranya sesuai dengan tujuan awal dibuatnya misi ini, tapi juga bisa memberikan fleksibilitas kepada saya agar saya bisa tetap menjadi stay-at-home mother (jawaban detailnya ada di bagian akhir tulisan ini).

Throwing Back

Pertama-tama, saya harus memeriksa kembali NHW-NHW terdahulu.

Di NHW pertama, “belajar ilmu agama” sudah terpilih sebagai jurusan pilihan saya di Universitas Kehidupan. Alhamdulillah, saya tidak perlu mengubah apapun karena jurusan yang saya pilih ini masih sangat relevan dengan misi hidup yang telah saya buat.

Di NHW kedua, saya membuat tiga buah checklist. Sayangnya, tidak semua poin dalam checklist bisa saya praktikkan secara langsung karena keluarga saya sedang berada dalam masa transisi. Kami sedang dalam proses pindah rumah sehingga situasi sama sekali belum kondusif. Untuk isinya, saya rasa saya belum perlu melakukan perubahan.

Di NHW ketiga, saya menuliskan bahwa peran saya yang paling krusial adalah sebagai fasilitator dan coach anak yang notabene adalah seorang homeschooler (di mana saya dan suami bertanggung jawab langsung terhadap pendidikan anak kami). Untuk yang satu ini juga saya tidak perlu mengubah apapun, tapi saya akan menambahkan satu poin lagi sehingga nantinya terbentuklah misi hidup saya secara keseluruhan.

Moving Far Ahead

Jadi, apa misi hidup saya? Misi hidup saya (berkisar di bidang pendidikan dan pengasuhan anak) adalah sebagai berikut.

1) Menyumbangkan segenap pikiran (dan bila perlu tenaga) saya agar para ibu dan calon ibu lain bisa ikut tercerahkan sebagaimana saya tercerahkan saat mengikuti Kelas Matrikulasi IIP

2) Menyumbangkan segenap pikiran (dan bila perlu tenaga) saya untuk mengedukasi publik mengenai Homeschooling (selanjutnya disingkat HS) agar kami, para praktisi HS, bisa menikmati proses pendidikan tanpa adanya diskriminasi

Dengan begitu, peran yang ingin saya mainkan ada dua: menjadi pengurus Institut Ibu Profesional dan menjadi anggota Perserikatan Homeschooler Indonesia.

Untuk bisa mencapai dua peran itu, ada beberapa tahap ilmu yang harus saya kuasai.

– Bunda Sayang: ilmu seputar pengasuhan anak
– Bunda Cekatan: ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
– Bunda Produktif: ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial, dan lain-lain
– Bunda Shaleha: ilmu tentang berbagi manfaat pada banyak orang
– Ilmu tentang bagaimana menjadi Fasilitator yang baik di kelas-kelas yang diselenggarakan oleh IIP
– Ilmu tentang seluk-beluk HS, kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan HS, dan seterusnya

Agar saya bisa terarah dalam menjalankan misi hidup ini, saya juga perlu menetapkan beberapa milestone.

Tahun pertama:
– menyelesaikan Kelas Matrikulasi
– mendaftarkan diri sebagai anggota PHI
– mencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di PHI bila saya merasa mampu

Tahun kedua:
– menyelesaikan Kelas Bunda Sayang
– bergabung dalam Rumah Belajar IIP Tangsel, terutama RumBel Menulis agar bisa ikut menyumbang ide supaya RumBel Menulis Tangsel bisa berkembang menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya
– mencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di IIP/PHI bila saya merasa mampu

Tahun ketiga:
– menyelesaikan Kelas Bunda Cekatan
– mencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di IIP/PHI bila saya merasa mampu

Tahun keempat:
– menyelesaikan Kelas Bunda Produktif
– mencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di IIP/PHI bila saya merasa mampu

Tahun Kelima:
– menyelesaikan Kelas Bunda Shaleha
– mengikuti program pelatihan untuk Trainer dan Fasilitator
– nencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di IIP/PHI bila saya merasa mampu

Demikian. Kenapa saya memilih untuk menjadi pengurus IIP dan PHI? Karena saya tahu betul bahwa IIP dan PHI ini adalah organisasi yang ramah ibu dan anak. InsyaAllah, jika saya bergabung ke kedua organisasi ini, ‘urusan domestik’ di rumah tidak akan terbengkalai. Justru, saya yakin bahwa saya akan semakin banyak mendapatkan ilmu-ilmu baru seputar agama Islam, pengasuhan anak, dan sekolahrumah. Ain’t that perfect?

I can feel the fun already. 💃

 

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *