NHW #3: Mulai dari Analisa Diri sampai Surat Cinta buat Si Abi

Tema NHW kali ini adalah “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”. Apa isi tugasnya? Nihhh, dijamin seru parah.

1. Jatuh cintalah kembali kepada suami Anda, buatlah surat cinta yang menjadikan Anda memiliki alasan kuat bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak Anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respons dari suami.

2. Lihatlah anak-anak Anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

3. Lihatlah diri Anda, silakan cari kekuatan potensi diri Anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa Anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang Anda miliki?

4. Lihat lingkungan dimana Anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan Anda? Adakah Anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga Anda dihadirkan disini?

And here are my answers!

POTENSI ANAK

Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences Theory) yang dikembangkan oleh Howard Gardner menjelaskan bahwa seseorang memiliki (setidaknya) delapan cara dalam memahami dunia. Kedelapan cara tersebut dituangkan dalam bentuk delapan kecerdasan: linguistik, matematis-logis, visual-spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.

Kami cukup banyak memaparkan Alma dengan berbagai macam aktivitas. Oleh karena itu, dia menunjukkan beberapa perilaku yang menjurus ke beberapa kecerdasan di atas. Namanya juga masih balita, ya. Nah, berikut hasil pengamatan kami sebagai orangtua.

Linguistik

Kecerdasan linguistik ini adalah aspek yang kami lihat paling dominan dalam diri Alma. Mengapa? Karena Alma suka sekali berbicara dan bercerita. Ketika dibacakan buku, seringkali dia memotong di tengah-tengah cerita karena ingin ambil bagian dalam menceritakan alur berikutnya. Apapun yang dia anggap menarik, pasti diceritakan kepada saya/Abinya. Beberapa kali dia mengarang cerita (untungnya tidak menjurus negatif, masih dalam batas aman, murni hasil imajinasi balita semata). Selain cerita, dia juga suka mengarang lagu. Alma justru jarang menyanyikan lagu anak-anak pada umumnya. Dia lebih suka menyanyikan beberapa rentet kata-kata yang sedang dia ucapkan secara spontan. Kalau saya respons, kami jadi terlihat seperti sedang berperan dalam drama musikal, hahaha. Oiya, jenis permainan yang Alma sukai adalah pretend play dan juga role play. Setiap hari pasti ada waktu ketika Alma mengajak boneka-bonekanya berkumpul dan mengajak mereka berbicara. Apa yang mereka obrolkan? Tergantung apa yang sedang dia minati saat itu. Misalnya, kalau hari itu kami membawa dia untuk vaksin, pasti seharian dia akan membahas itu dengan boneka-bonekanya (bonekanya disuntik dan dia akan berusaha menenangkan si boneka bahwa disuntik itu tidak apa-apa, sakitnya cuma sebentar, dan seterusnya).

Naturalis

Di rumah, kami sekeluarga tidak menonton TV. Kami baru mengenalkan screen-time pada Alma setelah dia mulai bisa berbicara dengan lancar, itu pun melalui YouTube (karena kontennya bisa kami atur/pilih). Kami sering mengajak Alma menonton video tentang kehidupan hewan di alam liar ataupun di penangkaran. Hasilnya, Alma jadi hafal cukup banyak jenis binatang dan bagaimana mereka hidup. Di rumah, kami juga selalu mengajak Alma mengamati hewan dan tumbuhan apapun yang kami temukan. Anjing, kucing, cacing, lintah, pohon jagung, ulat, burung, putri malu, serangga, cicak, rerumputan, katak, kecebong, bunga, tokek, ayam, dan banyak lagi lainnya. Oiya, Alma suka sekali bermain air dan keluar mengeksplor alam. Dia suka sekali mengamati hujan, bulan, dan awan di jendela kamarnya. Mungkin ini kenapa sebabnya Alma tidak bisa tahan jika harus berada di dalam rumah seharian.

Visual-Spasial

Perilaku Alma yang paling menonjol terkait kecerdasan spasial: Alma sangat eksploratif secara fisik. Kalau diberi mainan baru, dia akan langsung mencoba satu persatu fitur-fitur yang ada pada mainan tersebut. Semua akan dipencet, diputar, digeser berulang-ulang sampai dia hafal keseluruhan fungsinya. Kalau sudah, dia pasti akan berlanjut membalik mainannya untuk mencari kotak penyimpan baterai dan dia akan meminta saya untuk membukanya. Yang paling membuat saya ketar-ketir adalah Alma sekarang sangat menyukai keyboard dan tombol-tombol berwarna-warni yang ada di layar ponsel. Sudah sering sekali dia mengirimkan gambar, audio dan teks di akun media sosial dan messenger saya (she really knows how to do it, she knows several functions of the buttons). Selain itu, Alma juga suka sekali melompat dan memanjat. Yang paling terakhir dan membuat saya kewalahan adalah ketika dia menyadari bahwa dirinya bisa naik (memanjat) ke atas stroller sendiri tanpa bantuan. Walhasil dia jadi naik-turun stroller berulang-ulang selama beberapa menit tanpa henti.

Musikal

Ini berkaitan dengan kesukaan Alma dalam ‘mengarang’ lagu (seperti yang sudah saya jelaskan di atas). Alma biasanya otomatis mengayunkan kepala atau menggoyangkan badan jika ada musik atau lagu diputar. Itu sebabnya kenapa Alma jadi suka sekali mendengarkan suara adzan. Bagian favoritnya adalah di tiap suku kata terakhir ketika muadzin meliukkan suaranya. Alma jadi suka menirukan suara adzan (bagian Allahu Akbar-nya saja), dan dari situ secara tak langsung Alma jadi bisa menaikturunkan suaranya membentuk nada-nada, berurutan dari tinggi ke rendah dan juga sebaliknya.

 

POTENSI SAYA

Wah, di sini saya harus menganalisa diri sendiri, ya. Baiklah, saya akan coba sebutkan beberapa potensi saya (yang saya sadari) di sini ya.

Saya sangat suka belajar bahasa Inggris dan mempraktikkannya. Berawal dari kegemaran mendengarkan dan menyanyikan lagu berbahasa Inggris, lambat laun saya jadi lumayan mahir menirukan gaya bicara penutur asli (native speaker), hehe. Oleh karenanya, dulu pun saya cukup sering mengikuti lomba-lomba pidato dan debat berbahasa Inggris. Dari segi tata bahasa juga saya tidak buruk. Saat kuliah, saya sempat menjadi grammar nazi di sosial media (dan sekarang saya menyesal, hahaha).

Saya sangat perfeksionis. Saya seringkali tidak tahan kalau melihat seseorang, sesuatu, atau keadaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Ini sangat bisa berujung negatif (dan beberapa kali seperti itu), tapi ternyata kadang bermanfaat juga. Terlebih karena pekerjaan saya adalah seorang pendidik (saya dulu sempat jadi Tutor di salah satu Learning Centre). Jika waktunya mencukupi, saya tidak akan berhenti menjelaskan kalau murid saya belum mengerti betul tentang apa yang saya ajarkan (ini memungkinkan, karena saya mengajar dalam kelompok-kelompok kecil). Pemikiran saya juga cukup sistematis. Kalau siswa tidak mengerti dengan cara A, maka saya tidak akan membuang waktu untuk lanjut menjelaskan dengan cara A. Saya akan otomatis mencari cara B, C, dan seterusnya sampai siswa bisa memahami materi dengan baik.

Saya juga suka sekali membaca, menulis, dan menggambar.

Nah, dengan potensi-potensi yang saya miliki tersebut, saya jadi menyadari peran yang sudah direncanakan Allah kepada saya. Saya menikah dengan pria yang berkarakter tenang, tidak berapi-api seperti saya. Suami saya irit bicara, tidak cerewet seperti saya. Saya mudah larut dalam stres jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, sebaliknya, suami saya masih bisa berpikir jernih di saat-saat seperti itu. Saya ini mudah mengoreksi orang terdekat saya sehingga bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan (khusus orang terdekat, kalau orang lain saya tidak terlalu mau ikut campur). Saya beruntung karena suami saya masih bisa maklum menerima koreksian saya itu (walaupun saya tahu dia jengkel sekali, namanya laki-laki, sesuai fitrah mereka pasti punya harga diri yang tinggi, terutama di depan wanitanya). Terkadang saya malah dibecandai sampai saya hanya bisa terkekeh sebal. Intinya, dia memahami betul kenapa saya bisa seperti itu.

Dari segi latar belakang pendidikan, saya adalah ‘orang Science’ sedangkan suami adalah ‘orang Akuntansi yang hobi Koding’. Kami jadi saling melengkapi. Misalnya, dalam hal memilih buku anak bertema Science untuk Alma, biasanya saya yang lebih sering memilihkan. Kalau urusan memilih bank, metode KPR, dan seterusnya pasti saya serahkan ke suami karena saya kurang begitu paham. Ketika saya mulai menekuni dunia blogging, suami sayalah yang membantu membuatkan domain blog dan memberikan saran-saran kepada saya.

Suami saya bekerja di kantor pemerintahan. Di hari kerja, suami hanya bisa beberapa jam saja berada di rumah. Oleh karena keperfeksionisan saya, saya jadi tidak rela jika harus bekerja di luar rumah meninggalkan Alma sendirian dengan orang lain. Alhamdulillah, suami pun satu suara. Saya percaya bahwa sayalah pendamping bermain belajar terbaik Alma karena saya yang paling tahu kelebihan dan kelemahannya. Terlebih lagi, Alma memiliki temperamen yang mirip seperti saya, jadi saya sangat memahami beberapa sifat Alma yang seringkali membuat orang lain ‘gagal paham’.

Sampai pada suatu hari, kami mengambil sebuah keputusan besar: kami berencana untuk tidak menyekolahkan Alma di sekolah formal. Kami akan mengambil jalur informal untuk pendidikannya, yaitu sekolahrumah alias homeschooling.

Dalam menyelenggarakan homeschooling, peran orangtua teramat besar. Orangtua harus mau secara konsisten belajar untuk menjadi fasilitator dan coach yang baik untuk anak. Jadi bukan hanya sekedar menjadi guru yang mengajarkan mata pelajaran di rumah.

Saya pun lega. Dengan berbekal potensi-potensi yang saya miliki (mulai dari sifat sampai latar belakang pendidikan), akhirnya saya tahu kenapa Allah menghadirkan saya di tengah-tengah keluarga kecil saya ini. Kalau menyadari peran saya yang sangat krusial dalam keluarga saya ini, kadang terbersit rasa deg-degan juga. Tapi bismillah, semoga jalan kami senantiasa di-ridhai dan dimudahkan Allah SWT.

 

TANTANGAN DI LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL DAN APA YANG BISA KAMI LAKUKAN

Akhir bulan ini, saya sekeluarga akan kembali menetap di rumah kami yang mungil di Tangerang. Rumah kami berada di dalam kompleks yang nyaman dan asri. Hanya saja, kompleks perumahan kami belum memiliki fasilitas umum berupa masjid. Di luar kompleks pun belum ada masjid yang nyaman yang bisa dijangkau dalam waktu singkat. Tentu saja, Abi dan saya cukup concern mengenai hal ini.

Membangun masjid tentu saja tidak semudah memberikan sedekah pada orang yang membutuhkan. Ada banyak sekali pihak yang harus dilibatkan dan dana yang harus dikumpulkan. Kami sadar bahwa kami adalah warga baru yang belum banyak tahu. Oleh karena itu, yang bisa kami lakukan adalah mencoba menyampaikan aspirasi kami kepada pengurus Paguyuban di kompleks kami. Tentu tidak secara frontal, melainkan dengan menyelipkan bahasan-bahasan mengenai betapa nikmatnya kalau kami memiliki masjid di dalam kompleks ke dalam obrolan sehari-hari, apakah memungkinkan bila nanti dibangun masjid, dan seterusnya.

Selain masjid, di sekitar kompleks perumahan kami juga belum banyak penjual makanan. Padahal demand-nya besar sekali. Beberapa ibu sudah berinisiatif untuk menjual berbagai macam produk makanan di rumah. Tentu saja, saya juga jadi merasa tertantang untuk melakukan hal yang sama.

 

A LOVE LETTER FOR YOU, HUBBY

Bi, dulu, sebelum aku ketemu kamu, aku sering banget ngerasa desperate. Rasanya, aku nggak punya satu manusia pun yang bisa aku percaya di dunia ini. Padahal, banyak banget masalah-masalah kompleks yang aku pendam bertahun-tahun, tapi aku nggak bisa keluarin itu semua.

Aku dulu sering lho Bi mikir: aku pasti nanti hidup sendirian selamanya. Mana ada laki-laki yang tahan hidup selamanya sama orang gila kaya aku?

Tapi untungnya, aku masih ingat Allah, Bi. Waktu hampir lulus kuliah dulu, aku pasrah sepasrah-pasrahnya. Aku cuma punya satu bekal doa yang pertama kali aku baca artinya, aku langsung tau kalo doa inilah yang selama ini aku cari.

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin.”

Bagus banget ya Bi doanya? Sampai sekarang, kalau aku baca doa ini di tengah keheningan malam, aku pasti nangis lho, Bi.

Kaya sekarang.

Tau nggak, Bi. Allah tuh sayaaaaaang banget sama aku. Aku juga heran. Padahal aku ini siapa sih. Dosa juga nggak tanggung-tanggung banyaknya. Tapi Allah selalu sayang sama aku (I love You, too, Allah!).

Buktinya, setelah aku baca doa itu teruuus-menerus, Allah akhirnya dengerin aku, Bi. Tiba-tiba, Allah ngirim kamu.

Aku inget banget pertama kali kita ketemu, di warung nasi Padang depan kampus! Hihihi, kamu tuh dulu lucu banget tau, Bi. Udah cungkring, pendiem banget lagi. Padahal kalo di Facebook demennya ngeledekin. 😆

Ah, jadi inget. Kita dulu lumayan ‘akrab’ ya di Facebook. Akrab saling ledekin maksudnya. Inget nggak Bi,  kamu dulu panggil aku ‘Medusa’, aku bales panggil kamu ‘Jenglot’.  Ngeselin. 😂

Mana aku tau kalo beberapa tahun kemudian ternyata Medusa malah jatuh cinta dan nikah sama Jenglot. 😂

Makasih ya, Bi, udah sabar sama aku. Udah mau jadi tempat luapan tangisku. Padahal aku sering banget ngomel-ngomel, bahkan nyalahin kamu waktu ada yang nggak beres dikit di rumah. Percayalah, Bi. Itu cuma kamuflase aja. Sebenernya aku lagi marah sama diriku sendiri. Jangan diambil hati ya, Bi.

How can I hurt a man like you?  Aku sama sekali nggak mau, Bi. Tapi otak dan alam bawah sadarku nggak bisa diajak kompromi.

Tapi aku ngerti kalo kamu ngerti bahkan tanpa aku nulis surat ini. Abisnya kita sering yah ngomongin ini. Tapi kan tetep, Bi. I have to say it properly. *peluk!*

Apa aku beraniin diri buat ke psikolog aja ya, Bi? Gimana Bi menurutmu? Alhamdulillah di IIP ini aku ketemu perempuan-perempuan keren, Bi. Beberapa ada yang ‘sakit mental’ kaya aku juga, dan kemarin ada yang ngajakin temen-temen buat ke Psikolog bareng (bagi yang ngerasa butuh). Aku takut deh, Bi. Tapi aku emang butuh sih, ya?

Tuh kan, bikin surat cinta, ujung-ujungnya aku malah curhat sama kamu Bi. Gimana sihhhh. Ke-bi-a-sa-an. 😑

Pokoknya aku sayang, cinta banget sama kamu, Bi. Titik! You are my true comfort zone. Stay with me and Alma forever and ever, ya Bi. We can do this TOGETHER! 😘

2 comments
  1. Balasan abi gimana mak??heheh..kepo ni…

      1. Cuma satu kata Mak: “PRETTT~” 😂😂😂
Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *