Task 2: Menjaga Mindset dan List Hambatan dalam ber-KonMari

Kali ini, saya akan menuliskan kembali mindset dalam metode KonMari yang paling menempel di otak saya dan bagaimana cara menjaga mindset tersebut. Selain itu, saya juga akan menjabarkan satu persatu apa saja hambatan yang sekiranya akan saya hadapi dalam berbenah beserta solusinya masing-masing.

Menjaga Mindset

“The question of what you want to own is actually the question of how you want to live your life.” – Marie Kondo

“Focusing solely on throwing things away can only bring unhappiness. Why? Because we should be choosing what we want to keep – not what we want to get rid of.” – Marie Kondo

Kutipan yang pertama mengingatkan saya pada mindset yang sudah cukup mengakar di lingkungan sosial kita: semakin banyak benda yang dipunyai seseorang, maka semakin sukses pula hidupnya. Sayangnya, mindset seperti itu akan membuat kita menjadi gemar mengumpulkan barang-barang hanya demi terlihat ‘sukses’ (dalam banyak artian), padahal sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut. Atau kalaupun butuh, kita hanya perlu dalam jumlah kecil saja.

Kutipan yang kedua juga sangat berkaitan dengan ini. Alih-alih berbelanja dan menyimpan banyak barang, akan lebih baik jika kita menyimpan sedikit, tapi kita tahu bahwa yang sedikit itulah yang paling bisa memberi kebahagiaan dan keberfungsian untuk kita.

Lalu untuk saya pribadi, bagaimana caranya agar mindset-mindset ini tetap terjaga?

Barang yang paling mudah membuat saya melakukan penimbunan (hoarding) adalah baju, sepatu, tas, dan sejenisnya. Barang-barang ini, bisa dibilang, adalah barang-barang yang paling berpotensi untuk menghancurkan kembali mindset yang sudah saya bangun. Akhirnya saya pun mengaplikasikan prinsip One In One Out. Awalnya saya sortir dulu, baju seperti apa sih yang saya paling suka? Jadi fokusnya ke baju-baju yang ingin disimpan, bukan yang harus dipensiunkan. Baju yang saya sudah bosan atau tidak saya sukai lagi kemudian saya discard.

Saya sudah melakukan ini sejak lebih dari setahun yang lalu. Hasilnya, hidup saya terasa lebih simpel dan bahagia. Kenapa? Karena sekarang saya tidak perlu lagi berdiri berlama-lama di depan lemari yang penuh sesak sambil kebingungan, “Saya mau pakai baju yang mana, ya?” Dengan meminimalisasi kuantitas baju, saya bisa langsung memutuskan akan memakai baju yang mana. Hasil pilihan saya pun pasti tidak akan mengecewakan karena baju-baju yang sudah tersimpan di lemari, pastilah baju-baju yang paling saya sukai.

Kalau sudah bosan bagaimana? Saya akan membeli yang baru. Baju yang lama akan saya jual kembali (menjadi barang preloved) atau kalau mau, bisa didonasikan. One in, one out.

Tidak usah sedih atau baper, karena sebetulnya those shoes and clothes (in this case) have served their purpose: barang-barang ini sudah memberikan kebahagiaan pada saya saat saya membeli mereka. They had brought me joy, but now it’s time to move on. Efek samping dari ini:  sekarang saya tidak mudah lapar mata. Kalau pun saya akhirnya memutuskan untuk membeli baju, saya hanya membeli baju-baju yang berkualitas saja dan kalau bisa, mudah dijual kembali with good price. Kalau dulu, saya suka lemah melihat baju-baju yang modelnya lucu-lucu dengan harga murah. Hasilnya, lemari saya pun jadi penuh sesak tidak terkendali. Dark times, indeed.

Hambatan dalam Berbenah

Hambatan pertama dan utama yang pasti akan saya hadapi adalah ‘keikutsertaan’ anak dalam proses berbenah. Ini saya alami juga ketika saya dan suami packing besar-besaran saat kami pindah rumah kemarin. Anak saya masih berumur 2 tahun, jadi masih agak susah jika harus dilibatkan dalam proses berbenah. Yang ada berbenah malah makin lama selesainya dan saya jadi stres karena pekerjaan tidak kunjung selesai. 😅

Solusi untuk ini ada dua. Pertama, saya dan suami berbenah ketika Alma tidur. Kedua, saya berbenah sendirian dan Alma diajak Abinya bermain berdua saja. Dua solusi ini pernah kami lakukan, and it worked.

Hambatan kedua berkaitan dengan komonos. Untuk kosmetik, alat tulis dan mainan anak, saya sangat susah membuat benda-benda ini rapi dalam jangka waktu yang lama. Ketika saya sudah selesai merapikan, pasti tidak lama nanti akan berubah berantakan lagi.

Solusi untuk kosmetik dan alat tulis, saya akan membuat storage divider seperti gambar di bawah ini.

Untuk mainan, alih-alih digabungkan dalam satu tempat, saya akan sortir seluruh mainan sesuai kategori untuk kemudian saya taruh di kotak-kotak tertutup, seperti ini.

Rencananya, saya nanti akan buat sesi bermain yang terjadwal untuk Alma. Lagipula, tidak semua mainan harus dimainkan pada hari itu. Jadi saya akan membuat tema harian atau mingguan. Peralatan/buku/mainan yang di-display hanya yang sesuai tema saja dan ditaruh di rak berbeda dengan mainan yang sudah disimpan di kotak tertutup. Berikut ilustrasinya.

Hambatan ketiga yaitu ketika saya sudah berhasil memisahkan barang-barang yang akan disimpan dengan barang-barang yang akan saya discard, pasti rumah jadi terlihat penuh dan berantakan (terutama oleh barang-barang yang akan di-discard).

Solusinya, sejak awal saya akan menyediakan kotak kardus besar yang terdiri atas dua kategori: kardus untuk barang yang didonasikan dan kardus untuk barang yang akan dibuang. Jadi barang-barang tidak berceceran di lantai karena saat selesai disortir, semuanya langsung dimasukkan ke kotak kardus.

Hambatan keempat lebih ke dalam hal mempertahankan kerapian. Setelah pakaian yang dijemur sudah kering, biasanya langsung ditumpuk di satu tempat. Tapi jika terlalu lama ditumpuk, walhasil muncullah timbunan baju kering yang belum disetrika. Sama halnya dengan baju kotor. Baju kotor juga sangat rentan terjadi penumpukan. Satu lagi: alat masak dan alat makan. Selesai memasak di pagi hari, bila alat masak tidak langsung dicuci pasti jadi menumpuk dengan piring-piring dan gelas di siang-sore harinya.

Solusinya sebenarnya saya tahu betul: cuci dan setrika baju setiap hari dan cuci alat masak-alat makan segera setelah selesai digunakan. Yang membuat sulit adalah mempertahankan kedisiplinan dalam melakukan hal tersebut di atas. Jujur, saya masih berproses untuk yang satu ini. Semangaaat!

Wah, tugas kali ini boleh juga, ya. Karena saya belum mulai berbenah, saya jadi bisa mempersiapkan dengan lebih baik lagi, hehehe. Kebetulan saya dan suami baru akan mulai berbenah minggu depan, saat kami sudah kembali ke rumah kami tercinta. Yes, we’ll start doing the KonMari Method from zero and I’m reaaaaally looking forward to it! 😍

 

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *